Bahkan senja menghadapi ajalnya setiap hari
Dihukum mati sang malam
Bukti bahwa kehangatan tak abadi
Selihai aku berlari, setakpeduli dirimu memuji
Rindu Evelina
sebab hidupku terlalu indah untuk tak dituliskan
14 May 2012
Salahkan Waktu
Langit senja kali ini cukup bersahabat. Bahkan saat pukul
enam sore yang seharusnya sudah bersembunyi di sebelah barat. Hangatnya masih
bisa aku rasakan di seluruh permukaan kulitku, dan pendingin di mobil tak lagi
membuatku menggigil. Untuk sesaat aku merasa ini adalah firasat baik. Semoga
ada kabar baik saat di ujung pulau yang lain.
“Mau kemana, Mas?”
“Mau ke Bandung.”
“Oh, iki Mas’e asli Bandung tah?”
“Inggih, Pak.”
“Oh, di sini kuliah
toh?”
“Inggih, Pak.”
Lalu taksi kami melewati alun-alun kota, salah satu tempat
yang aku suka. Bundaran yang sering aku lewati berkali-kali di malam Minggu
sambil memperhatikan pasangan yang sedang berpacaran di sekitarnya, atau hanya
sekadar menghabiskan waktu saat merindukan dinginnya Bandung.
“Sudah sampe di stasiun, Mas. Hati-hati ya di jalan. Ojo’
gelem diajak ngobrol ambe’ wong sing ‘ra dikenal.”
“Inggih, Pak. Suwun yo, Pak.” kataku sambil memberikan dua
lembar uang dua puluh ribuan pada supir taksi tersebut.
Kereta yang akan mengantarkanku sudah berbaring manis di
atas rel. Namun, aku masih terlalu malas untuk masuk. Matahari senja masih
hangat. Entah apa yang membuatku gelisah, tak pernah matahari betah
berlama-lama di langit seperti ini.
Aku melihat sekelilingku, ada dua remaja yang saling
berpelukan, ibu-ibu yang asik dengan tas-tas baru mereka, penjual koran meneriakkan headline hari ini. Sesore ini masih
bersemangat menjajakan koran. Bahkan berita itu hanya tersisa beberapa jam
sebelum muncul berita baru.
Masih ada beberapa menit sebelum keretaku berangkat.
Kukeluarkan sepucuk kertas dan sebuah pulpen dari dalam tasku, lalu aku mulai
menulis. Konon, perempuan menyukai laki-laki yang romantis. Aku tak punya cukup
uang untuk membeli bunga mawar, apalagi perhiasan. Tabunganku habis untuk tiket
kereta dan membayari makan.
Ternyata aku tak bisa menulis terlalu panjang. Suara kereta
mengagetkanku, dan aku mengakhiri tulisanku dengan hembusan panjang.
***
Alarmku berbunyi pelan. Sejak dulu aku punya teori bahwa
suara yang pelan akan lebih masuk ke dalam pikiran dibandingkan musik yang nyaring.
Dan ini selalu berhasil membuatku tepat waktu di setiap kegiatanku.
Aku segera menuju kamar mandi, menikmati waktu intim berdua
dengan percikan air. Tak ada yang bisa menerka berapa lama aku di dalam sana.
Seolah sudah menjadi kenikmatan tersendiri untuk menikmati proses aliran air
melewati likuk tubuhku. Meyakinkan diriku bahwa semua sudah terjamah. Lalu aku
mengenakan baju yang aku persiapkan sejak kemarin, dress biru tua selutut tanpa
lengan.
Aku berdandan sekadarnya, hanya untuk memastikan aku tak
terlihat membosankan. Sambil memoleskan lipstick, aku melihat kertas kecil di
cermin yang aku tempel setahun yang lalu. 25 Maret 2012. Ya, kedatangan
seseorang yang aku tunggu sejak lama.
Aku melihat jam dinding menunjukkan hamper pukul tujuh pagi,
bergegas aku merapikan rambutku lalu meninggalkan kamar.
“Mamaaah, pergi dulu ya.”
“Mau kemana pagi begini sudah keluyuran?”
“Jemput calon menantu!” teriakku pelan sambil berlari kecil
menuju garasi, meninggalkan Mama yang kebingungan.
***
Aku dibangunkan oleh sinar matahari yang menembus jendela
kereta. Ah, sawah, karpet hijau kesukaanku. Ada pula petani yang sudah sibuk dengan
tuaiannya, anak kecil berlari kencang, mungkin mau ke sekolah.
Petugas kereta sudah mulai membagikan sarapan dan mengambil
selimut yang semalaman dipinjamkan pada penumpang.
***
Pukul setengah delapan tepat. Aku melihat sekitar. Ternyata
keretanya belum sampai. Syukurlah, masih ada waktu untukku menulis beberapa hal
yang akan aku katakana saat melihatnya nanti. Setahun tak berjumpa mungkin akan
membuat kami canggung. Ah, aku terlalu bahagia! Belum digoda oleh siapapun tapi
pipiku memerah hanya karena membayangkan wajahnya!
Penjual koran mulai menjajakan berita. Pernikahan selebriti,
kasus korupsi, tak ada yang menraik perhatianku.
“Apa lagi ya yang mau
aku bilang ntar? Kabar, cuaca, rindu, kuliah, atau apa?”
***
Aku bergegas mengambil koperku dari bagasi di atas kursi,
lalu menunggu giliran keluar dari pintu. Di depanku ada pasangan suami istri
yang tampaknya baru pulang liburan. Di sebelah mereka ada seorang gadis yang
tak berhenti tersenyum sambil membaca SMS. Di belakangku ada ibu menyusui
anaknya. Di sebelah ibu tersebut ada kakek tua yang masih tidur. Beragam. Semua
berangkat dari kota yang sama.
***
“Dimana? Dimana kamu?”
aku mulai khawatir tak melihat ada wajah yang aku kenal. Semua yang keluar dari
pintu kereta tak luput dari perhatianku. Tak satupun yang sepertinya. Tak
satupun yang tak dijemput seseorang.
“Dimana?” aku
mulai menangis.
***
Akhirnya aku berhasil keluar dari kerumunan manusia yang
berlomba keluar dari pintu. Ah, udara segar!
***
Aku tahu akan berakhir seperti ini. Janji sudah seperti
permen yang bisa dinikmati siapa saja tanpa mengeluarkan uang banyak. Aku
terduduk lemas di salah satu kursi.
“Kenapa harus dibohongi lagi?”
***
Aku tak menemukan wajah
yang aku kenal. Bahkan ketika stasiun sudah sepi, aku masih tak menemukannya.
“Apakah dia sakit? Apakah
dia lupa?” kataku sambil menggenggam kertas yang sudah aku tulis untuknya
kemarin.
Lalu hujan mengguyur kota
Bandung, mengusir matahari yang sejak tadi berkuasa di langit. Mungkin hendak
mendinginkan hati dan kepala yang panas. Menghanyutkan kekhawatiran yang sejak
tadi tak juga hilang.
Aku masih sibuk
memperhatikan sekitarku dan tak ada orang yang aku kenal. Aku tak tahu alamat
rumahnya. Aku harus bagaimana?
***
Seharusnya aku bisa membawa
pulang calon menantu untuk Mama.
***
Seharusnya aku bisa
melamarmu hari ini.
***
Aku merobek kertas yang
sudah aku siapkan. Aku mual membaca kata-kata cinta yang aku tulis. Aku
menangis sesegukan sampai hampir lupa bernafas.
***
Aku membaca ulang kertas
yang aku tulis. Lalu merobeknya. Menyesal sudah berharap lebih untuk hari ini.
Hujan pun tak rela melihatku terbakar sedih.
***
Aku menulis SMS untuknya.
“Terima kasih. Aku tak
mencintaimu lagi”
***
Bip! Bip! Ada SMS masuk di
hapeku.
“Terima kasih. Aku tak mencintaimu lagi”
06 May 2012
4 tahun lalu saya dan Yoan mengambil tindakan gila, yaitu belajar di Bandung karena universitas incaran kami ada di sana. Saya dengan FTSL-ITB dan Yoan dengan FIK-UNPAD. Memesan tiket pesawat beberapa hari sebelum berangkat, tanpa ada persiapan matang, akhirnya kami berangkat. Oh ya, ini perjalanan pertama ke luar pulau tanpa orang tua. Hanya berdua Yoan, dan kami tak tahu apapun, sedikitpun, yang kami tahu kami akan mendarat di Jakarta dan harus cari kosan di Bandung sesegera mungkin. Itu pertama kalinya dipeluk Mama erat, dengan perasaan khawatir yang membuat beliau berhasil membohongi petugas bandara agar bisa menemani kami di ruang tunggu, tapi akhirnya ketahuan dan diusir. Hahaha :D Ini sedikit norak, tapi itu pertama kalinya saya pegang ATM atas nama saya sendiri, dan mengurus ATM itu juga sedikit memaksa petugas bank dengan alasan saya bakal kuliah di luar kota. Saya masih ingat dengan jelas perasaan itu, membayangkan rasanya kuliah, berubah dari seragam putih abu-abu menjadi anak kuliahan. Campur aduk, senang, khawatir, senang, khawatir, ya antara kedua itu.
Singkat cerita, kami mendarat di Soekarno-Hatta Airport, Jakarta. Lalu kami keluar, bertanya ke sekitar cara terbaik ke Bandung, dan kami pun memilih naik Primajasa. Beruntung kami duduk di depan, di sebelah supir, jadi selama di perjalanan kami bisa dibuat kagum oleh gedung-gedung bertingkat yang tak ada di Balikpapan, macetnya Ibu Kota, Monas, dan tol. Waw. itu pertama kalinya saya melihat tol dengan jelas. Yang ada di kepala saya saat itu adalah, "Hai, bangunan pencakar langit. Hai, jalan tol. Beberapa tahun lagi saya yang akan merencanakan kalian!". Terdengar gila ;)
Setelah melewati macet yang lumayan membosankan, kami tiba di Bandung. Waw! Bandung! Masih gak percaya bisa menginjakkan kaki di kota yang selalu didambakan. Yeah, agak lebay. Tapi itu adanya. Namanya juga masih 16 tahun.
Dan akhirnya kami menemukan kosan. Well, itu juga gak tau apa pertimbangannya, yang penting ada kamar untuk tidur, mandi, dan belajar. Kamarnya lumayan besar, 4x4 meter, kamar mandi di dalam kamar, isinya cuma kasur. Dua kasur. Tanpa lemari. Gak masalah sih, toh kami ke Bandung cuma berbekal satu koper, isinya cuma baju dan buku. Bahkan kami lupa membawa sepatu untuk ke gereja.
Setelah bersih-bersih kamar, kami nekat ke BIP, membeli semua yang dibutuhkan sebagai anak kos. Berasa jadi wanita hebat, berdua sama Yoan milih ini itu. Hahaha. Malamnya kami mengelilingi daerah kosan, menyusuri Jalan Surapati, cari makan yang kira-kira enak. Muter sana sini, akhirnya berhenti di warung padang. Jauh-jauh ke Bandung eh makannya ke warung padang juga. Hahaha. Dan Aa' penjual warung padang itu yang jadi teman dekat kami selama hidup di kos. Saya langsung jatuh cinta dengan logat Sunda. Ramah. Menyenangkan. Gak butuh waktu lama hingga akhirnya saya dan Yoan ketularan. Teteh Yoan dan Teteh Rindu. Lucuk!
Esoknya kami nekat ke GO tujuan kami. Karena Yoan ambil IPC, jadi dia belajar di GO yang berbeda dengan saya. Sebelahan sama Gramedia di depan BIP, atau persis di depan BEC. Jadi rute kami sehari-hari adalah kosan-pujasera BIP-Gramedia-GO-kosan. Waktu itu dari kosan ke GO naik angkot cuma Rp 1500,- loh. Murah . Dibandingkan dengan Balikpapan sih. Hahaha.
Setelah beberapa hari di Bandung, kami memutuskan untuk berkeliling. Naik angkot yang berbeda, sekedar tahu apa saja yang dilewati. Dan kami menemukan angkot yang pas buat ke pasar, ke PVJ, ke ATM terdekat, dan lainnya.
Beberapa minggu kemudian, kami tryout dari GO. Tempatnya jauh. Di Jalan Jakarta. Kami takut dibohongi supir angkot, jadi kami beli peta Bandung di Gramedia. Lumayan membantu. Jadi lah kami 'Dora The Explorer' yang bermodalkan peta dan ransel. Tryout jam 8, kami pergi jam setengah 6. Luar biasa. Dan itu pun kami sampai di tempat tryout jam setengah 8. Setelah tersesat dan bertanya dengan pak polisi yang baik hati.
Pulang tryout, kami agak kecewa dengan soal yang susah. Lalu kami memutuskan untuk makan di tempat yang jauh, biarin deh nyasar, yang penting senang. Selama masih di Bandung, pasti bisa pulang. Hahaha. Kami makan di tempat yang entah apa namanya. Itu pun karena dipanggil-panggil sama yang jualan. "Teteh, mau makan? Cobain sini atuh.." Dan kami akhirnya kenyang, bahkan sanggup jalan kaki dari Dago ke Surapati. Luar biasa.
Tiap malam kami hanya belajar di kamar. Tanpa hiburan apapun. Tanpa tv, radio, hanya lampu dan buku.
Setelah seminggu, saya tahu Jefri dan Beqi juga di Bandung. Bahkan satu GO. Dan ternyata satu kelas sama Jefri dan beberapa teman SMA. Betapa cueknyaaa saya -,-
Akhirnya ada teman pulang. Teman ngobrol di kelas. Teman jalan-jalan. Tapi sayangnya Jefri keburu ketrima di STT Telkom. Dia pindah kosan, dan jangkauan jalan-jalan saya makin luas! Hahaha. Ya, saya gak sedih, malah senang, senang banget, soalnya pas dia galau mau lanjutin SPMB atau ambil STT Telkom, saya yang saranin ambil Telkom, dan diikutin! *bangga* Papan scanner saya masih ada di kamu loh, Jef. Oke, sekian tentang Jefri.
Kembali ke kenyataan bahwa saya saat itu di Bandung juga terima kabar keterima di Teknik Sipil Brawijaya. Antara senang dan tak senang. Tapi di bagian ini tak perlu diceritakan, nanti saya mewek.
Intinya, Bandung adalah cinta pertama saya, cinta kedua saya, dan akan selalu menjadi yang paling saya cinta.
Banyak cerita yang belum bisa saya tulis sekarang, karena saya harus ke sana sekali lagi untuk membuat semuanya lengkap. I miss you, Bandung! Jemput saya sekarang agar tulisan ini bisa diakhiri dengan manis.
Banyak cerita yang belum bisa saya tulis sekarang, karena saya harus ke sana sekali lagi untuk membuat semuanya lengkap. I miss you, Bandung! Jemput saya sekarang agar tulisan ini bisa diakhiri dengan manis.
29 April 2012
kapan pertama kali kamu menangis untuk sesuatu yang hilang?
2008, gerbong kereta
meninggalkan Bandung
isak yang tak berhenti hingga terlelap
terima kasih
janji yang sudah terbakar airmata dan abunya berserakan di udara
cuma Tuhan yang mampu memaafkan
aku tidak
aku bukan Tuhan
ya, aku dendam
meninggalkan Bandung
isak yang tak berhenti hingga terlelap
terima kasih
janji yang sudah terbakar airmata dan abunya berserakan di udara
cuma Tuhan yang mampu memaafkan
aku tidak
aku bukan Tuhan
ya, aku dendam
Adam tak meminta Hawa diciptakan
![]() |
| pict from: weheartit.com |
Mungkin dia menanyakan itu padaku, atau pada dirinya sendiri yang tak bahagia dengan pacarnya.
Semenjak dulu aku punya satu teori. Tentang cinta. Cinta itu salah satu bentuk energi. Tak bisa hilang, hanya berpindah ke hati orang lain. Jadi, jumlah cinta di dunia ini tetap, tak lenyap, tak bertambah. Saat seseorang meninggal, cintanya kembali pada bayi yang lahir. Saat seseorang memutuskan pacarnya dengan alasan tak ada lagi cinta, sesungguhnya cinta itu dia alirkan ke orang lain, orang baru. Dan ini berlaku untuk semua manusia, tanpa terkecuali.
Oh iya. Kembali pada pertanyaan tadi.
Buat apa berdua kalau tak merasakan bahagia? Hmm. Kalau ingin bahagia, jangan berdua.
Adam tak pernah meminta tulang rusuknya. Namun, Tuhan yang menyuruhnya untuk menjaga Hawa, si tulang rusuk yang memakan buah larangan. Hawa juga tak meminta diciptakan dari tulang rusuk, Tuhan yang membuat semuanya menjadi sedemikian rupa agar laki-laki dan perempuan hidup bersama, beranak-cucu dan memenuhi bumi, dan berkuasa atas seluruh ciptaan Tuhan, di air, tanah, dan udara.
Apakah ini cukup menjawab?
Sebenarnya dunia ini disusun atas 3 elemen. Cinta, cahaya, dan Tuhan. Semua berawal dari hal baik. Jika ada yang hilang dalam suatu susunan, terciptalah hal yang buruk. Gelap ada karena cahaya tiada. Setan ada saat Tuhan tak ada. Sedangkan cinta? Saat dia tak ada, muncul kehampaan. Tak berasa. Tak membenci. Tak peduli. Seolah semuanya mati.
Sebenarnya tulisan ini tentang apa?
Kembali ke pertanyaan awal. Buat apa berdua? Macam-macam. Mulut butuh telinga untuk mendengarkan semua yang diucapkan. Tangan pun tak berguna saat tak ada tubuh yang nyaman dipeluk. Hal yang mudah tak perlu dijadikan runyam. Jaman sekarang cinta pun harus dialaskan banyak hal. Kepercayaan, kesamaan hobi, pekerjaan, masa depan. bla bla bla.
Bukankah Adam dan Hawa berdosa karena memakan buah yang Tuhan larang, bukan karena mereka berdua di taman Eden tapi tak merasa malu pada ketelanjangan? Seharusnya berdua bukanlah masalah. Berdua itu membuat hal terasa lebih.
Lebih indah? Oke.
Lebih berat? Bisa jadi.
Lebih menyenangkan? Atau malah lebih tak bahagia? Wajar.
Saat berdua tak merasa bahagia, be alone! Jangan mencari yang ketiga, keempat, kelima.
Kebahagiaan itu diciptakan. Bukan kamu terima dari orang lain.
Jika kamu berdua agar kamu dibahagiakan olehnya, kamu tak akan bahagia.
Subscribe to:
Posts (Atom)
